Home / Hukum Bisnis / Kasus Hukum Bisnis Sari Roti

Kasus Hukum Bisnis Sari Roti

www.notarisdanppat.com – Sari Roti dengan dukungan 10 pabrik di beberapa pulau di Indonesia memiliki skala yang cukup besar dalam memasuki pasar roti dalam negeri. PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk. menghadapi sengketa hukum dan didenda Rp 2,8 miliar. Disebutkan bahwa PT Nippon Indosari Corpindo,Tbk telah dibuktikan secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dan Pasal 6 PP 57 Tahun 2010. 

Terjadi transaksi pembelian saham (akuisisi) antara Nippon Indosari dan Prima Top Boga adalah dengan nilai Rp 31,5 miliar atau setara dengan 32.050 ribu saham. Kepemilikan setara dengan 50,99% saham Prima Top Boga. Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Dagang Tidak Sehat (PDF) mengatur bahwa pemerintah harus diberitahukan dalam waktu 30 hari setelah akuisisi terjadi.

Dalam penjelasannya, KPPU menjelaskan Nippon Indosari mengakuisisi Prima Boga pada 9 Februari 2018. Batas waktu pelaporan akuisisi adalah 23 Maret 2018. Namun, Nippon Indosari baru melaporkan akuisisi tersebut pada 29 Maret 2018. Oleh karena itu, ada terjadi penundaan empat hari kerja dalam penilaian dan pelaporan aksi korporasi KPPU. PT Nippon Indosari Corporindo, mengaku sedang melakukan pembahasan internal untuk memverifikasi keputusan KPPU.

Ini dilakukan untuk menentukan langkah-langkah lain perusahaan yang terkait dengan pengambilan keputusan yang mendetail. Indrayana mengatakan bahwa belum menerima surat keputusan asli KPPU.

Tentu hal ini sedang dalam pembahasan internal dengan departemen hukum mereka untuk memverifikasi dan menentukan langkah selanjutnya. Bukan alasan yang tidak masuk akal bagi KPPU untuk fokus pada merger dan akuisisi, bukan hanya masalah kepatuhan administratif. Adanya akuisisi dapat mempengaruhi kondisi pasar perusahaan, termasuk risiko posisi dominan atau aturan pasar yang tidak terkendali. Pasar roti tetap kompetitif secara nasional dan regional.

Roti Lembut, Persaingan Ketat

Analis Riset Mirae Asset Sekuritas mengatakan diversifikasi selera konsumen bisa menjadi salah satu faktor peningkatan permintaan roti di Indonesia ke depan. Hal ini karena kondisi makroekonomi yang relatif stabil memungkinkan konsumen Indonesia yang berpenghasilan menengah ke atas melakukan diversifikasi makanannya, termasuk makanan ala Barat seperti roti dan pasta. Konsumsi roti per kapita di Indonesia juga sedang meningkat.

Dalam laporan penelitiannya yang diterbitkan pada 6 Juni 2018 yang berbunyi bahwa salah satu produsen roti yang diuntungkan dalam hal ini adalah PT Nippon Indosari Corpindo, produsen Sari Roti. Kenaikan permintaan komoditas berbanding lurus dengan daya saing pasar roti kemasan Indonesia. Mimim Halimin mengatakan industri bakery di Indonesia sebagian besar didominasi oleh rumah tangga atau usaha kecil (UMKM / UMKM dan Usaha Kecil Menengah / UKM).

Disitu juga ditulis: “Baru-baru ini kami melihat bahwa dengan penambahan pemain yang relatif baru, persaingan menjadi semakin ketat.” Makanan yang dipanggang yang dikemas oleh perusahaan baru tampaknya tersebar di rak-rak berbagai toko serba ada di dekatnya. Dari tiga minimarket yang berada di kawasan Kemang Timur (Jakarta, Indonesia) saja, Sari Roti setidaknya bersaing dengan lima merek lain.

Di pintu masuk Indomaret, Sari Roti bersaing dengan Mr. Brand Bread. Roti produksi PT Indoroti Prima Cemerlang, Roti prima produksi PT Gardenia Makmur Selaras dan roti merk Salon produksi PT Multi Star Rukun Abadi. Harganya pun cukup bersaing. Misalnya roti lapis. Sari Roti menjual roti lapis berbagai rasa dengan berat bersih 46 gram dan harga Rp 4.500.

Mr. Bread menjual produk dengan jenis dan harga yang sama yaitu dengan berat 50 gram. Di bidang roti tawar selain bersaing dengan Mr. Bread, Sari Roti juga bersaing dengan pemain baru yaitu My Roti Yamazaki dari PT Yamazaki Indonesia. Merek baru ini bisa didapatkan di gerai Alfamart. Untuk roti bertekstur lembut, My Roti Yamazaki menjual produk seberat 380 gram dengan harga Rp 12.000. Sedangkan roti kupas produksi Sari Roti memiliki berat bersih 200 gram dan harga Rp 14.500.

Pilihan lain yang ditawarkan Sari Roti adalah roti biasa double soft crust dengan berat bersih tak lebih dari 360 gram dengan harga Rp 18.000. Untuk roti biasa dengan kerak, My Roti Yamazaki dijual dengan harga Rp 11.500 dan berat produknya 380 gram. Sedangkan Pak Bread menjual model yang sama dengan harga Rp 13.000 dengan berat 338 gram.

Roti merek salon ini menjual berbagai macam bentuk kepala yang lebih lembut dan memiliki varian isian yang menarik. Harga berkisar dari Rp 5.500 hingga Rp 9.500. Menariknya, harga jual produk bakery merk Salon dengan rasa dan variasi yang sama berbeda antara Indomaret dengan Alfamart dan Circle K. Selisih harga jual maksimal Rp. 500, dibandingkan dengan Alfamart dan Circle K di Indomaret. Paket penjualan roti merk salon di tiap minimarket juga berbeda. Merek Sari Roti juga tidak ditemukan di Circle K. Ini karena merek Sari Roti tersebar luas di seluruh Indonesia.

Pangsa Pasar Nasional Sari Roti Sekitar 40%.

Misalnya di Jakarta, ada merek roti Lauw, dan Tan Ek Tjoan yang menguasai pangsa pasar roti lokal. Selain merek-merek tersebut, ada merek lain Majestik, Swiss, Suisse, Holland Bakery, Buana dan BreadTalk. Oleh karena itu, karena tiap daerah berbeda maka tidak bisa disebut Pangsa pasar yang besar kedua. Menurut KPPU, akuisisi saham di PT Prima Top Boga oleh Sari Roti juga merupakan bagian dari aksi korporasi perseroan.

Perseroan berharap ada lebih banyak pabrik di Indonesia yang mendistribusikan dan masuk ke berbagai jenis roti, sehingga mendongkrak penjualan dan pasar. PT Prima Top Boga adalah produsen bakery yang memproduksi berbagai macam pastry atau roti, pastry, pizza dan pasta beku dari Perancis. Merek dagang yang diusung adalah BonChef.

Target pasar BonChef adalah hotel bintang lima, kafe, supermarket, dan hipermarket. Pada saat yang sama, dimungkinkan untuk mengimpor varian roti yang belum dimiliki Sari Roti. Beberapa tahun terakhir ini, penjualan Sari Roti memang sedang naik daun. Pada kuartal ketiga 2018 (PDF), penjualan bersih perusahaan yang tercatat di bursa dengan kode emiten ROTI mencapai 1,98 triliun rupiah atau meningkat 8% dibanding periode yang sama tahun lalu.

baca juga

    Mempertahankan penjualan mereka melalui peluncuran produk baru dan perluasan distribusi penjualan. Di dalam negeri, Sari Roti telah memperluas cakupan distribusinya ke wilayah Papua, Batam, Kalimantan dan Balikpapan. Selain itu, Sari Roti telah merambah wilayah baru di kota-kota seperti Lampung dan Manado.

    Meski jumlahnya terbatas, Sari Roti juga berekspansi ke Filipina. Langkah akuisisi ini juga tidak lepas dari upaya Sari Roti mengembangkan bisnis Octopus. Keputusan KPPU atas akuisisi Sari Roti atas Prima Top Boga tidak membatalkan akuisisi tersebut, namun Sari Roti harus berhati-hati dalam mengembangkan bisnisnya. Hal ini menjadi pelajaran bahwa langkah-langkah akuisisi lainnya di masa mendatang dapat melebihi yurisdiksi persaingan komersial.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.

    error: Content is protected !!