Home / Hukum Bisnis / HKI DAN EKONOMI KREATIF

HKI DAN EKONOMI KREATIF

notarisdanppat.com – HKI DAN EKONOMI KREATIF , Presiden Joko Widodo sangat peduli terhadap pengembangan ekonomi dan ekonomi digital, sebab keduanya diprediksi akan menjadi andalan masa depan.

Presiden melalui Perpres No. 6/2015 membentuk Badan Ekonomi Bekraf sebagai lembaga pemerintah setingkat menteri yang bertugas men ekonomi kreatif di Indonesia.

Pada masa Presiden SBY, ekonomi kreatif dima dalam lingkup Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pendirian Bekraf lebih tepat karena subsektor ekonomi kreatif berkaitan erat dengan tugas kementerian dan lembaga negara, tidak hanya terkait dengan pariwisata.

Go-Jek salah satu contoh bisnis kreatif dan bisnis digital yang telah bernila miliar dolar AS atau Rp 13,5 triliun

Pendirian Bekraf terbukti dapat mempercepat pertumbuhan sektor ekonc Indonesia, Pada tahun 2015 saat Bekraf baru didirikan, sektor ekonomi berhasil menyumbang 738 persen PDB nasional atau senilai Rp852 triliun 2017, ekonomi kreatif semakin maju dan berhasil menyumbang Rp 1.04 POB nasional, menyerap tenaga kerja 17,4 persen, dan memberikan kont sebesar 22,1 miliar dolar AS atau setara Rp300 triliun per tahun 20

Bisnis kreatif, bisnis digital, bisnis daring, e-dagang, dan bisnis tekfin sa banyak bermunculan di Indonesia seiring kemajuan teknologi internet da tar.

Generasi muda milenial berumur 17 tahun hingga 30-an tahun sanga aktivitas di internet termasuk berbisnis via internet. Perusahaan digital a (Gojek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak) bahkan sudah berhasil menjadi unicorn karena telah bernilai 1 miliar dolar AS atau Rp 13,5 triliun.

“Ekonomi Kreatif dapat diartikan sebagai sektor ekonomi yang meng alitas sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif, sehingga sektor sangat berkaitan dengan pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) HAKI milik privat, HKI milik publik, dan HKI milik komunitas. Hal ini menyeb subsektor ekonomi kreatif selalu mengandung unsur HKI.

Manusia kreatif adalah manusia yang memiliki daya kreasi atau daya ci berhak mendapatkan perlindungan HKI berbentuk Hak Cipta.

Sedang inovatif adalah manusia yang memiliki daya inovasi untuk menemuk baru atau desain baru sehingga berhak mendapatkan perlindungan H Hak Paten, Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DT Dagang, dan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Keseluruhan jenis dapat dimiliki oleh privat (perorangan atau badan hukum).

Ekonomi kreatif berkaitan pula dengan pemanfaatan HKI milik publik warisan budaya (cultural heritage), baik yang berbentuk warisan budaya ble cultural heritage) maupun warisan budaya takbenda (intangible culte Selain itu, ekonomi kreatif juga berkaitan dengan pemanfaatan HKI mi yang berbentuk hak Indikasi Geografis dan Indikasi Asal.

HKI DAN EKONOMI KREATIF

Dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-20 Kreatif didefinisikan sebagai “era baru ekonomi setelah ekonomi pertar industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan ngan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia S produksi utama dalam kegiatan ekonominya.”

UNCTAD dalam laporan Creative Economy Report 2010 mendefinisikan ekos kreatif sebagai konsep yang berkembang berdasarkan aset kreatif yang berpo meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Hal ini dapat mendo peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan ekspor s ligus mempromosikan inklusi sosial, keragaman budaya, dan pembangunan man Ekonomi kreatif juga mencakup aspek ekonomi, budaya, dan sosial yang berinte dengan teknologi, kekayaan intelektual, dan tujuan pariwisata

Industri kreatif bermodal dasar kekayaan intelektual. Penggerak industri kreatif bL lagi ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa secara materi dan politik, melair bertumpu pada orang-orang yang memiliki kemampuan kreatif dan inovatif.

Men Daniel Pink, gelombang ekonomi kreatif adalah fase abad konseptual dari para kre dan orang yang memiliki empati Industri kreatif mampu mengikat pasar dunia ngan jutaan kreativitas dan persepsi yang dapat dijual secara global.

Negara mnaju t lama menyadari saat ini tidak bisa lagi mengandalkan supremasi di bidang indu tetapi harus lebih mengandalkan SDM yang kreatif dan inovatif.

Istilah Ekonomi Kreatif pertama kali diperkenalkan oleh tokoh asal Inggris berna John Howkins, penulis buku Creative Economy, How People Make Money from Id John Howkins adalah seorang yang multiprofesi.

Selain sebagai pembuat film Inggris, dia juga aktif menyuarakan pentingnya ekonomi kreatif kepada Pemerin Inggris sehingga dia banyak terlibat dalam diskusi pembentukan kebijakan ekon kreatif di kalangan pemerintahan negara-negara di benua Eropa.

John Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang me dikan kreativitas, budaya, warisan budaya, dan lingkungan sebagai tumpuan masa pan.

Pengembangan dan penerapan konsep ekonomi kreatif diinspirasi oleh pemik Robert Lucas (peraih Nobel bidang ekonomi) yang mengungkapkan bahwa kekua yang menggerakkan pertumbahan ekonomi dapat dilihat dari tingkat produktiv orang-orang bertalenta dan orang-orang kreatif atau manusia-manusia yang men dalkan kemampuan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Reff GImana, Ekonomi Kreatif, Ekonomi Baru: Mengubah Ide dan Menciptakan Peluang (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013), him 4 Mauled Moelyono, Menggerakkan Ekonomi Kreatif – Antara Tuntutan dan Kebutuhan Jakarta: Penerbit

Konsep ekonomi kreatif itu kemudian dikembangkan oleh seorang ekonom, Richard Florida (2001), dari Amerika Serikat. Dalam bukunya, The Rise of Creative Class dan Cities and the Creative Class, dia mengulas tentang industri kreatif dan kelas kreatif di masyarakat. Menurut Florida, seluruh umat manusia adalah kreatif, apakah ia seorang pekerja di pabrik kacamata atau seorang remaja di gang senggol yang sedang mem buat musik hip-hop.

Perbedaannya adalah pada statusnya, karena ada individu-indi vidu yang secara khusus bergelut di bidang kreatif dan mendapat faedah ekonomi secara langsung dari aktivitas itu). Tempat-tempat dan kota-kota yang mampu men ciptakan produk-produk baru yang inovatif tercepat akan menjadi pemenang kompe tisi di era ekonomi ini.23

Di Amerika Serikat, keberadaan sumber daya manusia (SDM) kreatif digolongkan se bagai strata baru yang disebut creative class. Sekitar 30% pekerja dalam strata ini penghasilannya mencapai US$ 2 triliun.

Kontribusi yang demikian besar itu menja di salah satu alasan mengapa SDM kreatif patut diperhitungkan. Menurut Richard Florida, SDM kreatif meliputi orang-orang yang menekuni profesi sebagai ilmuwan (scientist), insinyur, arsitek, desainer, pendidik, artis, musisi, penghibur (entertainer). dan para pekerja dari sektor manajemen yang mengandalkan daya pikir dalam me- memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka adalah orang-orang yang menemukan dan menciptakan ide baru, konten baru, metode, dan teknologi baru.24

Gambar 5.3 Tabapan Evolusi Perkembangan Sistem Ekonomi

Ekonomi kreatif merupakan perkembangan lebih lanjut dari sistem ekonomi pertani an, ekonomi industri, dan ekonomi informasi. Sejak Revolusi Industri dicetuskan pada tahun 1765 oleh James Watt, usaha kreatif mulai berkembang melalui industri barang jasa berbentuk benda (tangible) dalam jumlah massal.

Namun sejak tahun 1996, mulai muncul produk kreatif berbentuk takbenda (intangible). John Howkins menyatakan awal tahun 2001 mulai memasuki gelombang ekonomi kreatif yang digerakkan oleh industri kreatif melalui penciptaan barang/jasa baru berbentuk intangible yang komer sial dan mengandung unsur HKI.

Ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi bermodalkan ide yang diformulasikan kedalam berbagai bentuk karya cipta atau inovasi baru.

Para pelaku ekonomi kreatif terdiri atas pemilik HKI (pencipta, inovator, pendesain), pengusaha, pemodal dan pelaku pendukung. Ekonomi kreatif tidak hanya melibatkan industri besar, namun juga in dustri kecil bermodal terbatas.

Hal ini tidak mustahil terjadi karena ekonomi kreatif bertumpu pada kekayaan intelektual, bukan pada kekuatan ekonomi semata Ekonomi kreatif mampu merasuk ke segala sektor kehidupan masyarakat tanpa disadari.

Inilah yang menyebabkan ekonomi kreatif dapat berkembang pesat sehingga dapat mengalahkan sektor industri manufaktur dan industri keuangan. Industri kreatif

juga mampu mendorong perkembangan sektor industri lain seperti pariwisata, trans

portasi, telekomunikasi, otomotif, manufaktur, perbankan, pasar modal, pendidikan,

kesehatan, pertanian, perikanan, pertambangan, dan lain-lain

Ekonomi kreatif (termasuk industri kreatif) diyakini akan menjadi sektor andalan ekonomi dunia di masa depan.

Negara-negara industri maju sudah menyadari pen tingnya pengembangan ekonomi kreatif sehingga mereka memiliki komitmen kuat meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) dan membuat perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Sejumlah insentif dan dukungan anggaran diberikan kepa da para pelaku industri kreatif agar mampu bersaing di pasar global

Salah satu contoh negara yang sukses mengekspor produk industri kreatif di pasar Plobal adalah Korea Selatan, Negeri ginseng ini mampu mengekspor budaya pop Korea seperti musik, lagu, tarian, animasi, komik, kuliner, film, dan sinetron ke pa Sar internasional sehingga menimbulkan fenomena demam Korea (Korean wave atau bally).

Sukses hallyu diikuti keberhasilan ekspor produk elektronika, otomotif, dan kosmetik yang juga banyak menampilkan artis Korea Selatan sebagai bintang iklan

Sebagai sesama negara Asia, Indonesia pantas belajar banyak dari sukses Korea Selatan Budaya nasional kita tak kalah dengan budaya mereka, bahkan warisan bu daya kita jauh lebih banyak dan lebih beraneka ragam.

SDM Indonesia juga tak kalah kreatif dan inovatif, hal ini terbukti dari banyaknya pelaku ekonomi kreatif nasional yang berprestasi di mancanegara. Kita hanya kurang dukungan dana negara serta komitmen kuat dari pimpinan nasional untuk mengembangkan ekonomi kreatif.

Sebelum era K Pop, dunia juga pernah dikejutkan dengan penetrasi budaya pop dari negara negara Asia yang lainnya seperti dari India, Hongkong, China, Taiwan, dan Jepang India sukses mengekspor film film ke mancanegara termasuk ke negara Eropa dan Amerika

Industri perfilman India (Bollywood) kini juga mulai banyak menjalin ker ja sama dengan sineas Amerika (Hollywood), termasuk menggaet sutradara kondang Steven Spielberg dan perusahaan animasi terkenal Walt Disney. China dan Hongkong

sukses film laga, sukses Jepang sukses mengekspor film dan komik animasi

berbagai negara, berperan besar menciptakan kemajuan sejahteraan Ekonomi kreatif dapat menciptakan kesempatan kerja, pendapatan, mengurangi kemiskinan dan pengangguran, sebagai perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable of growth). Kesejahteraan masyarakat maju seperti Amerika Jepang, Korea Selatan, China, dan negara-negara Eropa Barat pada meningkat dua sampai tiga kali lipat berkat sektor industri kreatif

Peran penting ekonomi kreatif membuat sejumlah negara dunia menyadari nya perlindungan HKI yang menjadi tumpuan utama ekonomi kreatif.

Para negara-negara di dunia memandang perlu ada keseragaman peraturan internasional tentang HKI agar dapat memberikan perlindungan global pemilik HKI serta menghindarkan dari perselisihan

tentang HKI di tingkat internasional pertama kali dibahas dalam dingan WTO bertajuk Putaran Uruguay tahun 1986-1994 yang menghasilkan pakatan HAKI bertajuk Agreement on Trade Related Aspects Intellectual Rights (Perjanjian TRIPS).

Perjanjian mampu menjembatani perbedaan turan HKI di berbagai negara dan memberikan standar ketentuan minimum perlindungan HKI yang harus dipatuhi oleh seluruh negara anggota WTO, Indonesia. Perjanjian mulai berlaku sejak Januari

Indonesia meratifikasi perjanjian TRIPS ke dalam tujuh undang-undang HKI

  • UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak
  • UU Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten,
  • UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek,
  • UU Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain
  • UU Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,
  • UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
  • UU Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas

Investasi HKI, warisan budaya dan ekonomi kreatif dapat dilakukan oleh komunitas, organisasi sosial, yayasan, perusahaan swasta, BUMN, BUMD, merintah pusat dan daerah, lembaga penelitian, universitas, dan investasi waralaba biasanya dilakukan oleh perorangan dan

vestas ekonomi kreatif dapat dilakukan dalam 15 subsektor yang meliputi: pe Lanan arsitektur desain, pasar barang seni, kerajinan, musik, fesyen, permainan i teraktif, video-film-fotografi, seni pertunjukan, layanan komputer dan peranti lun riset-pengembangan, penerbitan-percetakan, televisi-radio, serta kuliner

Sejak pendirian Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tahun 2015, ekonomi kreatif Indonesia kini dijabarkan dalam 16 subsektor yaitu: aplikasi dan pengembangan mainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesye Sim-animasi-video,

fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertu jukan, seni rupa, dan televisi-radio. Riset dan pengembangan (litbang) tidak lagi din sukkan ke dalam 16 subsektor ekonomi kreatif yang dibina Bekraf, sebab subsektor sudah ditangani Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi

Ekonomi kreatif berkaitan erat dengan perlindungan hukum HKI dan pengemban an bisnis waralaba (franchise). Beberapa subsektor ekonomi kreatif (seperti kulin musik, film, seni pertunjukan, acara televisi, percetakan, dan permainan interakt dapat dikembangkan menjadi bisnis waralaba (franchise).

Oleh karena itu, ekono kreatif tidak akan bisa berkembang dengan baik jika Pemerintah tidak bisa membe kan payung hukum yang memadai bagi pengembangan HKI dan waralaba.

Ekonomi kreatif sejatinya tak akan pernah bisa dilepaskan dari HKL Sebagai sekt ekonomi yang sangat mengandalkan SDM yang kreatif dan inovatif, sektor ekonom kreatif sangat bergantung pada perlindungan dan penegakan hukum HKI.

Tanpa tersebut pengembangan ekonomi kreatif hanya akan jadi angan-angan semata. Pa pelaku HKI yang juga pelaku ekonomi kreatif tidak akan bergairah membuat kan cipta dan inovasi baru apabila hak-hak mereka dilanggar tanpa sanksi hukum.

Pengembangan ekonomi kreatif (termasuk industri kreatif) memerlukan suasana k terbukaan, kebebasan berekspresi, dan penghargaan yang tinggi terhadap hasil kar intelektual yang berasal dari individu-individu kreatif yang ada di masyarakat semua prasyarat tersebut tidak akan berjalan baik jika tidak didukung adanya siste perlindungan hukum terhadap HKI.

Perlindungan hukum HKI diperlukan untuk men dorong munculnya sebanyak mungkin karya cipta dan invensi baru guna memperce pat kemajuan masyarakat dan peradaban umat manusia. Berdasarkan alasan ini, mak wajar jika isu HKI kini menjadi perhatian banyak negara di dunia 26

Perlindungan HKI juga perlu keseimbangan sehingga kepentingan publik dan priva sama-sama dapat dijaga. Perlindungan HKI yang lemah akan melemahkan prose inovasi dan kreasi oleh privat, tetapi di sisi lain, perlindungan HKI yang terlalu kuat

bisa menghambat kompetisi pengembangan inovasi dan kreativitas itu sendiri. R HK saat ini masih bernuansa individualis (privat).

Sebisa mungkin industri krea Indonesia diharapkan mampu membangun landasan HKI yang bersifat ketim yang kuat, karena HKI di dunia timur banyak berupa nilai-nilai kearifan budaya yang bersifat kebersamaan (togetherness) dan berbagi (sharing),”

Contoh kaitan HKI dengan ekonomi kreatif misalnya pada film kartun karya Disney Kekuatan film animasi Walt Disney terletak pada hak cipta yang membua koh kartun bisa terus hidup dan dijual sebagai produk lain (seperti cendera mata).

ipta membuat karakter film kartun tetap hidup dan terus menghasilkan uang him jangka waktu tertentu meskipun penciptanya telah meninggal dunia.

Pelaku ekonomi kreatif selaku pemilik HKI memiliki hak moral, hak ekonomi, dar eksklusif. Hak moral adalah hak yang dimiliki oleh para pencipta, penemu dan pe sain untuk selalu dicantumkan namanya di setiap karya yang dibuatnya.

Nama cipta, penemu dan pendesain harus tetap dicantumkan meskipun HKI tersebut dijual atau dialihkan ke pihak lain. Pemilik HKI juga punya hak ekonomi yaitu untuk memanfaatkan hasil karyanya guna mendapatkan keuntungan.

Dalam menggunakan hak ekonomi, para pemilik HKI juga memiliki hak eksklusif istimewa) untuk memakai sendiri HKI-nya atau memberikan lisensi HKI kepada lain. Dengan adanya hak eksklusif tersebut, maka para pemilik HKI dapat terh dari ketentuan UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Para pemili juga bisa mengembangkan model bisnis waralaba (franchise) agar bisa mempe keuntungan yang jauh lebih besar.

Modal utama investasi HKI bukanlah kekayaan materi, namun kekayaan non (modal intelektual) berupa kreativitas dan inovasi. Sebesar apa pun modal mate kekuasaan pasti ada batasnya.

Hal ini tidak berlaku pada modal intelektual ma yang tak kenal batasan, kecuali dibatasi kehendaknya sendiri. Sejarah membu kreativitas dan inovasi adalah sumber daya karunia Tuhan yang tak akan perna habisnya. Tidak hanya itu, seorang individu yang sukses berinvestasi di bidang H memiliki kekuatan untuk mengubah masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

H berkaitan dengan Waralaba dan Ekonomi Kreatif. Para pelaku ekonomi kreatif juga tergolong pemilik HKI yang memiliki hak eksklusif untuk memanfaatkan sendiri HKI-nya atau memberikan lisensi HKI (menyewakan) ke pihak lain. Pemberian lisensi HKI dapat mendatangkan keuntungan berupa royalti bagi para pemilik HKI.

Pemberian lisensi HKI (misalnya Hak Merek) bisa berpotensi merusak reputasi merek jika pihak penerima lisensi tidak menjalankan sistem bisnis yang baik dan benar. Untuk mengatasi persoalan ini, para pemilik HKI dapat mengembangkan lisensi Waralaba yang di dalamnya mengandung lisensi HKI plus lisensi Sistem Bisnis. Dengan memakai lisensi Waralaba, para penerima lisensi diwajibkan menggunakan sistem bisnis yang sudah dibakukan oleh para pemilik HKI (selaku pemberi lisensi).

Pemberian lisensi Waralaba juga bisa mendatangkan keuntungan lebih besar bagi para pemilik HKI jika dibandingkan hanya memberikan lisensi HKI.

Pemberi lisensi Waralaba akan mendapatkan dua macam penghasilan royalti berupa “biaya royalti” (royalty fee) dan “biaya waralaba” franchise fee). Biaya royalti adalah penghargaan atas pemberian lisensi KI, sedangkan biaya waralaba adalah penghargaan atas pemberian lisensi Sistem Bisnis.

Semua subsektor Ekonomi Kreatif dapat dijadikan bisnis Waralaba. Namun hingga kini sistem waralaba baru berhasil diterapkan di subsektor kuliner, fesyen, musik, film acara televisi, seni pertunjukan, kerajinan, percetakan, video, fotografi, litbang, layanan komputer, dan game.

baca juga

    Waralaba dapat mempercepat perkembangan sektor Ekonomi Kreatif. Hal ini sudah dibuktikan negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris yang sukses mengekspor produk industri kreatif dalam bentuk waralaba kuliner dan acara televisi ke seluruh dunia.

    Gambar 5.5 HKI, Waralaba, dan Ekonomi Kreatif

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.

    error: Content is protected !!